the art of living is writingPosts RSS Comments RSS

.:: Jadilah Pembela, bukan Hakim atau Jaksa ::.

Akhir-akhir ini semakin banyak terlihat di Televisi tayangan tentang persidangan hukum. Apakah itu masalah perceraian, pembunuhan, atau berbagai kasus pidana dan perdata lainnya. Sudah barang tentu kita tidak ingin kasus-kasus tersebut menimpa diri kita, naudzubilaminzalik…. Namun tanpa kita sadari sebetulnya selama ini kita sudah sering terjerat dalam suatu persidangan. Namun kita sendirilah yang memainkan semua peran yang ada dalam sidang tersebut. Kita sendiri lah yang menjadi hakimnya, jaksanya atau pembelanya dan tentu saja kita juga yang menjadi terdakwanya…!

 

Seperti yang kita tahu, diri kita terdiri dari dua bagian, yaitu ruh dan jasad. Mari kita berimajinasi sejenak andai ruh kita keluar dari tubuh (jasad) kita, ruh kita keluar karena ingin bermain “sidang-sidangan” bersama jasad kita. Ruh kita punya 3 pilihan peran yang bisa ia mainkan, ia bisa berperan menjadi hakim, jaksa atau pembela. Namun jasad kita hanya bisa menjadi terdakwanya.

Sekarang coba bayangkan suatu ruang persidangan dimana kita sebagai terdakwa duduk ditengah, didepan kita persis ada sebuah mic untuk kita berbicara. Di meja depan duduk seorang hakim dan pembantu-pembantu nya dan di meja samping kanan duduk seorang jaksa dan di meja samping kiri duduk seorang pembela. Adapun kasus dari persidangan ini adalah sebagai berikut:

“Anda dijadikan terdakwa atas apa-apa yang telah Anda lakukan selama ini.”

Seperti yang sudah kita tahu, ruh kita bebas untuk memilih 3 peran yang disediakan (hakim, jaksa atau pembela). Andaikan ruh kita memilih untuk menjadi jaksa maka seperti ini lah yg akan terjadi di ruang persidangan:

Sang jaksa (ruh Anda sendiri) akan menuntut kepada jasad Anda atas semua kelemahan-kelemahan dan kesalahan-kesalahan yang telah Anda perbuat selama ini. Ruh anda akan mengajukan tuntutan-tuntutan nya kepada Hakim sebagai berikut:

“Saudara Hakim…

  1. Terdakwa adalah seorang yang pesimis, maka ia saya tuntut untuk tidak boleh mencoba sesuatu yang baru!
  2. Terdakwa adalah seorang yang tidak percaya diri, maka ia saya tuntut untuk selalu menunduk saat berjalan dan tidak boleh berbicara atau tampil didepan umum!
  3. Terdakwa adalah seorang yang bodoh, maka ia saya tuntut untuk tidak boleh sukses!
  4. Terdakwa adalah seorang sering membuat kesalahan, maka ia saya tuntut untuk tidak boleh berbuat apapun lagi!
  5. Terdakwa adalah seorang biasa saja, maka ia saya tuntut tidak boleh terlalu banyak bermimpi!
  6. dan seterusnya…

Dan apabila ruh Anda memainkan peran sebagai hakim, maka seperti ini lah kira-kira jalannya persidangan:

Sang Hakim akan memberikan putusan kepada terdakwa:

  1. Terdakwa adalah seorang yang penakut, maka saya putuskan terdakwa untuk menjadi seorang yang pengecut!
  2. Terdakwa adalah seorang yang punya banyak kekurangan, maka saya putuskan terdakwa untuk menjadi seorang yang tidak berguna!
  3. Terdakwa adalah seorang yang sering melakukan kesalahan, maka terdakwa saya putuskan untuk menjadi orang yang gagal!
  4. Terdakwa adalah seorang yang pemalu, maka saya putuskan terdakwa untuk menjadi penonton saja!
  5. Terdakwa adalah seorang yang tidak kaya, maka saya putuskan terdakwa untuk menjadi seseorang yang biasa-biasa saja!
  6. dan seterusnya…

pengadilan1

Dan bila ruh anda memainkan peran yang terakhir, yaitu sebagai pembela (pengacara), maka jalannya sidang akan seperti ini :

Sang pembela akan membela terdakwa :

  1. Terdakwa saat ini memang seorang yang penakut, namun terdakwa berkesempatan untuk melakukan hal-hal yang ditakutinya itu agar ia menjadi seorang pemberani, maka berilah terdakwa kesempatan untuk melakukan hal-hal yang ditakutinya itu…
  2. Terdakwa memang memiliki banyak kekurangan, namun itu tandanya terdakwa adalah benar-benar asli seorang manusia, karena bukan manusia namanya kalau tidak mempunyai kekurangan, namun terdakwa juga memiliki banyak kelebihan yang saudara hakim dan jaksa tidak bersedia utk melihatnya, saudara hanya fokus kepada kelemahan-kelemahan dari terdakwa saja. Terdakwa dapat menutupi kelemahan-kelemahan nya dengan kelebihan-kelebihan nya dan terdakwa juga berkesempatan utk memperbaiki kelemahannya, maka berilah ia kesempatan.
  3. Terdakwa memang sering melakukan kesalahan, namun itulah justru tandanya saudara terdakwa akan menjadi orang yang sukses. Bukankah orang yang sukses juga bisa melakukan kesalahan? Yang terpenting setiap terdakwa melakukan kesalahan, terdakwa tidak mengulangi kesalahan yang sama. Maka berilah ia kesempatan.
  4. Terdakwa saat ini memang seorang yang pemalu, namun beri ia kesempatan mempelajari teknik-teknik, mencoba dan terus belajar untuk menjadi seorang yang percaya diri. Karena pemalu hanyalah sifat sementara yang sangat dapat untuk diubah. Maka berilah ia kesempatan.
  5. Terdakwa memang saat ini bukan seorang yg kaya, namun itu berarti terdakwa memiliki kesempatan utk berusaha menjadi kaya, terdakawa dapat menjadikan kekurangannya saat ini sebagai motivasi yg luar biasa utk menjadi kaya dan sukses. maka berilah ia kesempatan
  6. dan seterusnya…

Sadarkah kita drama persidangan diatas sering terjadi dalam diri kita? Saat kita sering menuntut diri kita untuk tidak melakukan sesuatu yang dikarenakan kelemahan-kelemahan yang kita miliki atau kesalahan-kesalahan yang pernah kita perbuat.

Saat kita sering menghakimi diri kita sendiri berdasarkan atas keadaan kita saat ini? Namun cobalah untuk selalu menjadi pembela bagi diri kita sendiri saat drama persidangan sedang berlangsung dalam diri kita. Menuntut itu tidak baik, apalagi menghakimi. Namun membela diri dan memberikan kesempatan kepad diri kita sendiri untuk senantiasa bangkit, itulah yg terbaik.

*Kebanyakan korban titanic meninggal bukan karena tenggelam, namun karena membeku dalam air dingin. Sama spt orang gagal bukan karena krisis atau masalah, melainkan karena kehabisan motivasi.

keep your motivation alive…

gambar diambil di.

16 responses so far

16 Responses to “.:: Jadilah Pembela, bukan Hakim atau Jaksa ::.”

  1. [...] juga di http://bagusrully.com/?p=345 (0) Comments Read [...]

  2. Liaon Dec 16th 2008 at 10:14 am

    Kenapa sample akhirnya mesti Titanic?

    Motivasi diri dan terus melangkahkan kaki untuk menggapai cita2 setinggi langit :-x :metal:

  3. vanthon Dec 16th 2008 at 10:14 am

    panjang euy

  4. shellyon Dec 16th 2008 at 10:17 am

    mau jadi pengacara ga??

    kalo gw sih ngga mau…ngeri. Kalo kata nyokap gw mah, pengacara itu pekerjaan yang membingungkan. Tau kenapa?? Ah, tau lah ya, masa ga tau sih, ga mungkin kan gw tulis disini alesannya. Ahahahaha

    :) )

  5. dianaprianyon Dec 16th 2008 at 10:47 am

    **jadi inget sama satu puisi**

    Ternyata kali ini aku tersudut
    pada suatu kepastian
    Yang gigih menepis semua kekuatanku tuk berlepas
    Saat berikutnya
    aku terjebak dalam persidangan..
    Selama ini yang selalu aku ingkari..

    (Di Suatu Persidangan – Uni Lail)

  6. benson Dec 16th 2008 at 11:11 am

    Good Advise, Semoga bermanfaat bagi kita semua… :metal:

  7. donyon Dec 16th 2008 at 12:35 pm

    oh begitu yah ??? saran yang bagus
    *fasriding*
    :-bd

  8. nengdjon Dec 16th 2008 at 12:54 pm

    kok ada fotoku disitu?? *bukan yang palu* B-)

  9. lalaon Dec 17th 2008 at 9:18 am

    suka kata2 yg terakhir..
    :-bd

    keep motivated!!

  10. iakszon Dec 17th 2008 at 10:23 pm

    pilih jadi penonton sajah … :-bd :metal:

    ruh and jasad gue nggak perlu repot lari2 ..

  11. emfajaron Dec 19th 2008 at 5:07 am

    waw lumayan panjang..

    inspiratif ceritanya :-bd

  12. Bang Aswion Dec 22nd 2008 at 6:16 am

    panjang tapi bernas, daripada pendek [tapi juga] bernas. nah lho?!

  13. Anantoon Dec 22nd 2008 at 2:19 pm

    klo jadi jaksa keren ga??
    kadang2 kita suka menghakimi diri sendiri sih…hmmm..

  14. Lyon Dec 24th 2008 at 4:50 pm

    Pilihan yang membingungkan [-(
    tapi saat ini jadi lah diri sendiri n’ menjalani hidup yang lurus² aja B-) :shy:

  15. Arikaka.comon Dec 27th 2008 at 6:38 pm

    Memang sulit..

  16. putrichairinaon Jan 29th 2009 at 10:03 am

    Saya tidak mau terjebak dalam analogi “jaksa dan hakim” yang digambarkan dalam tulisan ini. Kenapa tuntutan jaksa dan putusan hakim bernada negatif semua?! [-(
    Kenapa jaksa tidak berkata seperti ini :
    - saya tuntut ia untuk mempelajari teknik komunikasi.
    - saya tuntut ia untuk belajar bersosialisasi dan menjadikan dirinya bermanfaat bagi masyarakat.
    Atau kenapa hakimnya tidak berkata seperti ini saja :
    - saya putuskan ia untuk bergabung dalam kegiatan Bebersih Bandung. ;-)
    - saya putuskan ia untuk menjalani pelatihan komunikasi.

    Walau begitu, saya acungi dua jempol untuk filosofi dan motivasinya. :-bd

    (Numpang silaturrahim ya kak, bagus..)

Leave a Reply